Jumat, 13 Juli 2012

Menangis Hingga Tak Berairmata


Kembali menguak sebuah karya penuh semangat dan inspirasi untuk tak terus menerus menjadi pribadi yang keji, karna tak mampu memaknai hidup. Fidi Mahendra dalam bukunya yang berjudul "Winner Of LOVE-Jalan Cinta Para Pemenang", menorehkan sebuah kisah yang sangat bermakna. Saya sedikit akan mencoba untuk mengambil pelajaran dari kisah tersebut.

Kegagalan. Setiap orang pasti pernah mengalaminya, lantas apa yang anda lakukan saat kegagalan tengah menyelimuti hidup dan hari-hari anda. Menyesal? Menangis? atau bahkan mengacuhkannya?. Allah membebani hambanya dengan suatu masalah tidak akan melebihi batas kemampuannya. Begitu juga dengan kegagalan yang pernah menimpa kita. 

Dalam bukunya yang salah satu bab awalnya membahas tentang kegagalan, ada sebuah kisah dari seorang lulusan dari universitas terkemuka, namun ia selalu gagal setiap mengikuti tes pegawai. Tes apapun yang ia lalui semuanya menuai kegagalan. Padahal ia sudah rajin beribadah, berdo'a, shlat tahajud, dan ibadah-ibadah lainnya. Hingga pada akhirnya ia mendatangi seorang ustadz.

"Ustadz, katanya Allah itu selalu mengabulkan do'a hambanya." "Betul," jawab ustadz.

"Saya telah berdo'a setiap hari, shalat tahjud, puasa sunnah, dan semua amalan-amalan lainnya telah saya lakukan, mengapa Allah belum juga mengabulkan do'a saya? Padahal do'a saya sangat sederhana bahkan amat sangat sedrhana, saya hanya ingin dapat kerja."

Ustad itu berpikir sejenak, memahami keluhan anak muda di depannya. Lalu ia berkata, "mungkin kamu belum maksimal dalam belajar?"

"Belum maksimal bagaimana? Siang malam saya belajar, ,membaca semua trik-trik soal, ikut bimbingan, latihan-latihan, membaca koran bahkan semua informasi baik di media cetak maupun televisi selalu saya ikuti. Kurang apa coba?" Setengah marah anak muda ini mengeluarkan semua unek-uneknya.

Sambil menghea nafas panjang, tiba-tiba sang ustad berdiri dan menjabat tangan anak muda itu. "Selamat anak muda," katanya.

"Hah..maksudnya?" tanya pemuda itu keherann.

"Allah sedang mempersiapkanmu menjadi seorang pemimpin. Allah sengaja memberikan kegagalan demi kegagalan dalam hidupmu sampai akhirnya engakau tidak menangis dan mengeluh akan kegagalan itu. Allah sedang menggemblengmu menjadi pendekar hidup, menjadi ksatria."

"Saya belum mengerti."

"Kegagalan akan mengajarkanmu menjadi orang yang tahan uji. Bila engkau gagal lalu menangus setelah itu bangkit lagi, gagal lagi, mengais, bangkit lagi. Hingga akhirnya suatu saat engkau gagal, engakau tak lagi menangis karena engakau paham bahwa kesedihan tak akan membantu apa-apa, itu namanya engkau sedang dilatih oleh Allah untuk menjadi sosol yang tegar menjalani hidup."

Pemuda itu mulai mengerti perkataan ustad. "Lalu kapan saya akan berhasil? Dan mengapa do'a-do'a saya tak satupun dikabulkan oleh-Nya?"

"Keberhasilan dan kesuksesan hanyalah soal waktu, yang penting engkau berproses dulu. Do'amu memang sengaja tak dikabulkan di dunia karena itu menjadi tabunganmu di akhirat, Dan memang Allah suka untuk tidak mengabulkan do'amu agar engkau selalu berdo'a, berdo'a dan berdo'a, karena itu membuatmu lebih dekat dengan-Nya."
                                                                         ***

Ambillah petuah dan pelajaran dari kisah ini sobat, bahwa Allah selalu memberikan yang terbaik untuk hambanya. Bahkan sebuah kegagalanpun sangat besar ilmunya, sangat besar manfaatnya jika kita bisa untuk berpositif thinking, ber khusnudzon terhadap setiap rencana-rencana Allah.

Terkadang kita menyerah hanya karena sekali terjatuh dalam kegagalan, lalu mengeluh dan putus asa. Ketahuilah, bahwa keseuksesan adalah satu langkah di depan kegagalan. Kesuksesan sejati hanya didapat setelah kita mampu melewati ribuan kegagalan. Dan kesuksesan pasti datang setelah kegagalan. Seperti datangnya pagi selepas malam.

Semangat adalah satu-satunya hal yang kita butuhkan, selain itu kita juga butuh kesabarann untuk bangkit dari kegagalan. Dalam Al-Qur'an pun telah dijelaskan bahwa manusia akan di uji terus menerus, yakni dalam Q.S Al-Baqarah:214.

Marilah bangkit kawan, kejar mimpi rengkuh dalam genggammu dan wujudkan itu. :D

#sedikit banyaknya terimakasih, semoga bermanfaat. :D
maaf jika terdapat kekurang sempurnaan.

Sumber : "Winner of Love- Jalan Cinta Para Pemenang" karya Fidi Mahendra.


Tak kan Padam

beriringan rasa yang kurasa
ketika memandang kilau binar parasmu
entah apa yang membuat hati ini begitu luluh
tertahan berjuta rindu dalam sebongkah hati ini
berdesakan ingin segera terbalas
keteguhan hati dan kesabaran perlu dilalui
karena bukan rasa semulah yang ku ingin
namun rasa hakikilah yang ku ingin

bersabarlah engkau disana
dan ku disini juga kan tetap menanti hadirmu tuk ikrarkan itu
berbisik ku titipkan rindu pada gulita
lewat hembusan angin yang kan tertuju pada cahaya
cahaya nan jauh disana bertahta bersama cahaya
bulan dan bintang
sinarnya yang tak kan padam
laksana hati ini yang tak kan pernah padam menunggu dalam penantian

Selasa, 03 Juli 2012

Tugas Akhir Membaca Komprehensif


Nama  : Neo Ervida
Nim     : A310110041
Kelas   : IIA


Resensi Buku

Judul                : Negeri 5 Menara
Pengarang      :  A.Fuadi
Penerbit           : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit    : November 2010
Tebal                : 423 halaman
Jenis                 : Fiksi


Menggapai Puncak Mimpi

            Alif dengan berat hati memenuhi permintaan amak dan ayahnya untuk meneruskan pendidikannya di lembaga pendidikan yang berbasis agama. Pupus sudah keinginannya untuk masuk di sekolah negri favorit seperti yang telah ia impikan bersama Randai sahabat masa kecilnya. Pondok Madani adalah pilihan yang ia ambil, entah apa yang membuatnya bertekad bulat untuk merantau hingga ke pulau Jawa. Keputusan setengah hati itu ia ambil setelah menerima sepucuk surat dari Pak Etek Gindo yang menceritakan bahwa Pak Etek memiliki banyak teman di Mesir yang lulusan Pondok Madani di Jawa Timur, dan semua teman-temannya itu selain pintar melainkan juga pandai bahasa Inggris dan bahasa Arabnya fasih.

            Tekad bulatnya ia pegang teguh dan dengan berat hati pula ia melepas cita-citanya untuk melanjutkan di sekolah menengah seperti mimpinya yang kelak bisa meneruskan perguruan tinggi di ITB. Sepanjang perjalanan Alif di hantui berbagai macam perasaan dilema, akan keputusan yang ia ambil. Akankah ia mampu bertahan di sana? Karena di Pondok Madani terkenal dengan kedisiplinannya. Pada khirnya setelah melewati perjalanan yang panjang dan pelik, Alif samapi juga di tempat tujuannya Pondok Madani.

            Hari pertama di Pondok Madani Alif dan ke lima temannya di sihir oleh manta sakti man jada wajadda. Siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses. Selain itu ia di pertemukan dengan sahabat-sahabat barunya dengan hukuman jewer berantai, Alif berteman Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan Baso dari Gowa. Dibawah menara masjid mereka melukis mimpi dan asa. Di bawah bayangan menara mereka melewatkan waktu untuk bercerita tentang impian-impian mereka, membahas pelajaran tadi siang, ditemani kacang sukro. Bagaikan menara cita-cita mereka tinggi menjulang. Dan mereka ingin sampai di puncak-puncak mimpi kelak.

            Novel Negeri 5 Menara yang merupakan kisah nyata yang terinspirasi oleh pengalaman penulis menikmati pendidikan yang mencerahkan di Pondok Modern Gontor. Semua tokoh dalam novelnya terinspirasi dari tokoh asli, beberapa lagi adalah gabungan dari beberapa karakter yang sebenarnya. Sungguh besar kekuatan sebuah mimpi dan asa di tunjukkan penulis dalam setiap bab dalam novel ini. Kepatutan dan ketepatan penggunaan diksi menambah ketertarikan dan minat pembaca untuk terus membaca hingga titik penghabisan cerita. Pengkisahan yang digunakan membuat pembaca serasa berada dalam suasana yang sama dan dapat meraskan ketegangan yang di alami tokoh.

            Cerita yang menggunakan alur flashback awalnya membuat pembaca bingung untuk mencernanya, namun pada akhir cerita kebingungan itu dapat terpecahkan saat penulis menceritakan kehidupan Sahibul Menara pada masa yang berbeda yakni setelah lulus dari PM dan mereka telah mencapai puncak mimpi mereka seperti yang terlukiskan di bayangan menara.