Janji-janji pun terucap. Angan-angan semakin melambung. Asa membuncah menembus khayalan. Begitu indah memang membayangkan dan berandai-andai. Bulan dan bintang melukis asa dalam sebuah pelangi mimpi. Pelangi yang berhias banyak warna menunjukkan keindahan. Selaras asa bintang dan bulan untuk menorehkan mimpi itu bersama. Selamanya.... begitu tutur bintang dan bulan.
Hingga pada akhirnya sesuatu itu terjadi. Seakan bintang begitu menjauh, berlari, hingga menghilang. Berkecamuk dalam hatilah yang bulan rasakan. Namun, tak sedikitpun bulan berprasangka akan suatu hal yang buruk tentang bintang. Hal positif yang slalu ia coba pikirkan. Hari demi hari bulan lalui berteman sepi, tanpa bintang. Detik berlalu menjadi menit, menit beranjak menjadi jam, jam bergantu menjadi hari, hari lapuk menjadi minggu. Tak ada seidikitpun kabar darinya. Makin gundah saja hati bulan akan semua ini.Detak jantung memburu, airmata luluh dari dua sudut mata. Kepala tertunduk menahan sakitnya hati yang luka. Seakan tak percaya akan kenyataan yang ada didepannya. Hanya mampu menangis...menangis...dan menguatkan hati. Tertusuk hati bulan mengetahui bahwa bintang tlah bersama bulan yang lain. sakit yang teramat ia rasakan membuat dunia disekelilingnya gelap. Tak ada bintang lagi yang kan temaninya nikmati senja, tak ada bintang lagi yang temaninya merasakan dinginnya kerinduan. Merelakannya itulah yang bulan lakukan, meskipun terselip harapan ia akan kembali dan memberikan sepatah alasan. Namun putuslah harapan itu, dan bulan pun beranjak dari keterpurukan. Karna masih ada orang yang lebih mencintainya yang tak akan menyakitinya.
Pada hari itu bintang kembali datang dengan membawa berpatah-patah alasan dan penjelasan. Dan dari percakapan 60 menit kebih 4 menit bulan mendapat suatu kesimpulan, bahwa bintang tak sedikitpun berkhianat pada bulan. melainkan ia hanya berusaha menjaga komitmen ayah ibunya untuk tak bermain asmara. Dengan terisak bulan mendengar semua itu, kata maaf tak putus terucap dari bintang. Begitu juga dengan isak tangis yang semakin menjadi, dan dada yang semakin sesak. Begitu berat memang, namun inilah hidup yang tlah tertulis skenarionya. Bukan layaknya sinetron, namun inilah nyata. Begitu inspiratif memang. Dan banyak hikmah dibalik semua ini.
Kini ku tlah merelakanmu bintangku
Raihlah mimpi dan asamu
Begitu juga aku
Akan tetap meraih asaku dan kembali melukisanya meski tanpamu
Tak akan pernah aku berusaha untuk membenci dan melupakanmu
Biarlah smua ini menjadi kenangan terindah antara kita
Sebuah kisah layaknya dongeng Bintang dan Bulan dalam meraih Pelangi Asa
Terimakasih akan cinta yang pernah kau beri
Sekalipun engkau merasa pudar dan tak bersinar lagi
Namun dalam hatiku masih tetap menyimpan pancaran keindahan sinarmu
Karna bagaimanapun Bulan kan tetap bersanding dengan Bintang
Bulan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar